ZURINAH HASSAN IALAH SASTERAWAN NEGARA MALAYSIA

KOMEN

Wednesday, August 06, 2014

MELIHAT DUA BUAH PUISI RAIHANI MOHD SAAID- salin dan tampal dari facebook.

Tulisan Djazlam Zainal yang wajib disimpan (sebagai koleksi "harta keluarga")




Raihani ketika menerima hadiah di dalam sayembara ITBM,
di Kediaman Timbalan Perdana Menteri. 


Dunia puisi tidak pernah ada noktahnya. Puisi akan sentiasa hidup walaupun jasad penyairnya telah terkubur beribu tahun. Puisi-puisi Chairil Anwar, Amir Hamzah mahupun Usman Awang tetap memayungi dunia sastera tanah air dan nusantara. Sentiasa baru dalam nuansa langit dan bumi citranya. Melihat dan mengulang baca ' Sidang Kultus ' karya Raihani Mohd Saaid, saya merasakan bara yang belum reda. Bara yang masih memijar kepanasannya apatah lagi dalam bacaan dan ketelitian seorang pengamat dan pengkaji. Saya merasa itu terhadap ' Sidang Kultus ' seperti mana saya merasainya terhadap ' Sekepal Tanah ' karya Rahimidin Zahari. ' Sekepal Tanah ' telah dinobatkan sebagai karya atau pemenang Sayembara Puisi Darul Iman suatu ketika dahulu. Kemenangan kumpulan puisi di peringkat tanah air dan nusantara. Namun dalam peringkat Hadiah Sastera Malaysia, 'Sekepal Tanah ' tewas dengan sebuah kumpulan puisi milik penyair Kemala. Kenapa demikian? Saya masih mengharapkan agar ada penilaian yang sewajar untuk Hadiah Sastera Malaysia untuk kumpulan puisi ' Sidang Kultus ' ini.

Dua puisi yang menarik fikir saya sejak menatapi sejak awal ialah 'Soalan Gerda Lerner ' ( hal. 14 ) dan ' Naskhah ' ( hal. 20 ) Puisi ini pada saya jauh keluar dari jalur pemuisian ketika ini. Walaupun sebenarnya ' Sidang Kultus ' disuguhkan kepada umum dalam bentuk yang ternyata ' di luar kotak '. Menurut Raihani, sajak-sajak dalam kumpulan ini merupakan satu kerahan akal dan percubaan meninggalkan gaya persajakan saya sebelum ini. Tema akal budi bangsa dalam sejarah yang menjadi kesukaan atau semacam jati diri saya telah saya beri sudut pandangan baru ( hal. ix ) Sebagai penyair yang sentiasa mencari lokasi barunya, Raihani matang dalam mencari wadah bagi menyampaikan pemikirannya.. Dalam usianya 35 tahun sekarang ( Raihani lahir pada 12 Jun 1979 ) apakah dikira sudah terlewat bagi Raihani mencari lokasi baru bagi pemikirannya? Chairil dalam usia 27 tahun, telah sampai puncak kecemerlangannya. Begitu juga dengan Rahimidin, di penghujung usia 20-an, 'Sekepal Tanah ' telah dihasilkan. Raihani, menunggu sampai ke usia 34 tahun baharu dapat menghasilkan ' Sidang Kultus. ' Kebijaksanaan juga biasanya berada dalam lokasi kematangan penyair. Barangkali ini sesuai bagi Raihani.

Dalam ' Soalan Gerda Lerner ' Raihani menulis;

bagaimana rupa wajah sejarah kita
jika ditulis dengan ( oleh ) pena wanita
dan nilainya diatur mengikut tafsiran mereka?

dari kaca jendela ini
wajah sejarah tidak sama
matahari menyudut mataku ke penjuru tanjung
bulan meniruskan matamu ke kaki gunung

apakah akan muncul watak si berani duri mawar
yang menyelamatkan empayar dari terbakar?
apakah akan muncul puspa juwita
yang dilorek wataknya dengan pena saksama?
apakah lembaran ilmu di pustaka
tidak menafikan jemari sutera?

selamanya wajah sejarah itu
air mata yang berombak
laut darah yang menggelegak
bunga yang diracun kelopak

Siapakah Gerda Lerner? Saya perturunkan biodata beliau di sini. Lerner was born Gerda Hedwig Kronstein in Vienna, Austria, on April 30, 1920, the first child of Ilona (née Neumann) and Robert Kronstein, an affluent Jewish couple. Her father was a pharmacist, her mother an artist. Following the Anschluss, Kronstein joined the anti-Nazi resistance, and spent six weeks, including her eighteenth birthday, in an Austrian jail, occupying a cell with two gentile women arrested for political work who shared their food with the Jewish teenager because jailers restricted rations for Jews. Her family was able to escape from Austria; Kronstein, with the help of a young socialist lover, Bobby Jensen, immigrated to the United States in 1939.

When Lerner first moved to New York, she worked as a waitress, salesperson, office clerk, and x-ray technician, all the while writing fiction and poetry; she published two short stories providing a first-person account of the Nazi occupation. After her divorce from Jensen, she met and married Carl Lerner, a young theater director who was active with the Communist Party USA (CPUSA). In the 1940s she was active in the Congress of American Women (CAW, a women's group concerned with economic and social issues), helping to found the Los Angeles chapter in 1946. In 1951, she collaborated with poet Eve Merriam on a musical, The Singing of Women. Her novel, No Farewell, appeared in 1955; with her husband, she wrote the script for Black Like Me. Committed Communists, the Lerners were involved in numerous grassroots activities involving trade unionism, civil rights, and anti-militarism; they struggled against Mc Carthyism, especially the Hollywood blacklist.

Lerner returned to school in the late 1950s, in her 40s, earning an A.B. from the New School for Social Research in 1963, and an M.A. and Ph.D. from Columbia University in 1965 and 1966 respectively; her dissertation became her first publication, The Grimke Sisters from South Carolina: Rebels Against Slavery (1967). In 1966, Lerner became a founding member of the National Organization for Women; she was a local and national leader in the organization for a short period. In 1968 she became a professor at Sarah Lawrence College. In 1972 she started there the first program to offer a graduate degree in women's history (a master's degree program.) She also taught at Long Island University in Brooklyn. Throughout the 1960s and 1970s, Lerner published numerous books and articles to help further the recognition of women's history as a field of study. Her article "The Lady and the Mill Girl" (1969) was an early and influential example of class analysis in women's history. In 1979, she chaired The Women's History Institute at Sarah Lawrence College, a fifteen-day conference (July 13-29), co-sponsored by Sarah Lawrence, the Women's Action Alliance and the Smithsonian Institution, which was attended by the national leaders of organizations for women and girls. When the participants learned about the success of the Sonoma County's Women's History Week celebration, they decided to initiate similar celebrations within their own organizations, communities, and school districts. They also agreed to support an effort to secure a "National Women's History Week." This all helped lead to the later celebration of Women's History Month.

In 1980, Lerner created the nation's first Ph.D. program in women's history, at the University of Wisconsin at Madison, where she later became professor emerita. From 1981 to 1982 she served as president of the Organization of American Historians. As an educational director for the organization, she helped make women's history accessible to leaders of women's organizations and high school teachers. She was elected a Fellow of the American Academy of Arts and Sciences in 1998. The Organization of American Historians named the Gerda Lerner-Ann Scott Prize for the best women's history dissertation in her honor. In 1986 Lerner won the American Historical Association's Joan KellyPrize in recognition of her work on the roots of women's oppression.

Lerner was among the first to bring a consciously feminist lens to the study of history, producing influential essays and books. Among her most important works are the documentary anthologies, Black Women in White America (1972) and The Female Experience (1976), the essay collections, The Majority Finds Its Past (1979) and Why History Matters (1997), The Creation of Patriarchy (1986), and The Creation of Feminist Consciousness (1993). She published Fireweed: A Political Autobiography in 2002.

Apakah yang dimaksudkan penyair sebagai ' rupa wajah sejarah kita ' ini adalah sejarah Palestin? Ternyata tidak kalau berpandukan hasil karyanya. Beliau menulis tentang perjuangan wanita. Sudah tentu Gerda Lerner tidak menulis sejarah geopolitik dan pensejarahan Israel-Palestin yang sedang membakar waktu ini. Raihani hanya menyebut tentang penglibatan dan perjuangan Lerner dalam membangunkan wanita. Ini bermakna, ' bagaimana rupa wajah sejarah kita ' pada baris pertama sajak ini bukanlah bermakna sejarah negara. Sejarah kita yang dimaksudkan Raihani adalah sejarah kaum wanita. Memang sudah banyak persoalan gender ini dibangkitkan oleh wanita. Norhayati Abdul Rahman dalam bukunya, ' Puitika Sastera Wanita Indonesia dan Malaysia: Satu bacaan Ginokritik ' adalah keluhan permasalah ketidakadilan gender. Begitu juga Free Hearty dalam bukunya ' Keadilan Gender: Perspektif Feminis Muslim dalam Sastera Timur Tengah ' adalah pendedahan mengenainya. Raihani menekankannya dalam puisi pula.

Raihani membangkitkan persoalan, ' bagaimanakah rupa wajah sejarah kita/ jika ditulis dengan pena wanita/ dan nilainya diatur mengikut tafsiran mereka?// ' Sebenarnya, nilai wanita terutamanya kaum muslimah telah dimuliakan oleh Islam. Ketika kejahilan menyelubungi langit bumi Quraish, di mana wanita hanya merupakan hamba seks bagi kebutuhan nafsu lelaki, dan anak perempuan ditanam hidup-hidup kerana memalukan gengsi keluarga, Allah telah menyelamatkan wanita dan diletakkan dalam kedudukan yang mulia. Namun, Women Lip di Barat telah menyamaratakan status lelaki dan wanita sehingga kemudian wanita kembali menjadi hamba. Antaranya persamaan hak dalam serba serbi kehidupan sosial. Dan apabila dunia kembali dikuasai oleh liberal dengan kekalahan Islam di Andalusia, maka kehidupan sosial umat Islam juga dipengaruhi oleh pandangan gobal dan universal ini. Inilah yang dilihat oleh Raihani dalan puisinya ini. Apakah sebenarnya sejarah wanita yang ditulis oleh wanita ( yang dimaksudkan di sini ialah Gerda Lerner ) adalah penyelamat dalam ' pengasingan dan perlecehan gendar? ' Raihani menulis, ' dari kaca jendela ini/ wajah sejarah tidak sama/ matahari menyudut mataku ke penjuru tanjung/ bulan menurus mataku ke kaki gunung// ' Raihani menulis tentang matahari dan bulan. Katanya, ' matahari menyudutkan mataku ke penjuru tanjung/ bulan meniruskan matamu ke kaki gunung// ' Matahari adalah lambang lelaki dan bulan adalah lambang wanita. Matahari ( lelaki ) menyudutkan mataku ke penjuru tanjung dan bulan ( wanita ) meniruskan matamu ke kaki gunung. Apakah ketika Raihani menulis puisi, fikiran dan perasaannya terkesan terhadap pelengseran wanita terutamanya golongan sasterawani dalam dunia sastera tanah air? Sejak kebelakangan ini, isu Sasterawan Negara di kalangan wanita lantang dibangkitkan. Malah Fatimah Busu dengan lantang menyatakan, dunia sastera Malaysia yang dikuasai oleh lelaki seakan ' memandang sebelah mata ' terhadap keberadaan wanita dalam sastera. Bukan saja tiada sasterawan wanita dinobat sebagai Sasterawan Negara, malah tiada seorang pun sasterawani wanita diberikan gelaran ' Dato' sepertimana kebanyakkan sasterawan lelaki. Natijahnya, Zurinah Hassan telah diberi gelaran Dato' oleh kerajaan negeri Kedah, negeri kelahiran Zurinah Hassan. Maka bergelarlah di seluruh ceruk rantau negeri dan buana ini, Zurinah Hassan adalah penyair wanita bergelar Dato' ( lengkapnya, Dato' Dr. Zurinah Hassan ) title yang tersebut dalam upacara-upacara rasmi. Apakah ini laluan seterusnya untuk Dato' Dr. Zurinah Hassan dinobat sebagai Sasterawan Negara daripada kalangan wanita yang pertama di negara ini, setelah 12 orang Sasterawan Negara terdiri daripada kalangan lelaki?

Dalam rangkap ketiga, Raihani menyarakan, ' apakah akan muncul watak si berani duri mawar/ yang menyelamatkan empayar dari terbakar?/ apakah akan muncul puspa juwita/ yangc dilorek wataknya dengan pena saksama? apakah lembaran ilmu pustaka/ tidak menafikan jemari sutera?// Simbol-simbol duri mawar. puspa juwita dan jemari sutera adalah eleman watak wanita. Saranan Raihani adalah, wanita harus memperjuangkan kelestarian dunia wanita itu sendiri. Jangan diharap kepada lelaki. Ini adalah perjuangan wanita. Dan watak yang memperjuangan wanita di era gobalisasi adalah Gerda Lerner sebagai simbolismenya. Konklusi Raihani terhadap wanita selama ini adalah;

selamanya wajah sejarah itu
air kata yang berombak
laut darah yang menggelegak
bunga yang diracun kelopak

Raihani telah membangun citranya dengan cemerlang dalam puisi ini.

Puisi ke dua yang menarik perhatian saya ialah ' Naskhah ' Dalam ' Naskhah ' , Raihani menuliskan;

tak semua hasrat dan keinginan adalah gagasan
kuntum ilham sering berhubung
dengan taman kurnia Tuhan
lalu ramai yang hanya menunggu
sekadar untuk menghidu bau

semua di dunia ini adalah taman kurnia Tuhan
bunga ilham menyimpan madu kata
disaring dengan upaya bahasa
gagasan itu buah lazat
terbaja dari renung dan fikir
dengan diri sendiri, alam dan kebenaran

Puisi ini mengingatkan saya terhadap puisi Baza Zain dan Muhammad Haji Salleh. Puisi yang lahir daripada segumpal falsafah. Sememangnya begitulah, puisi bukannya hasilan yang iseng-iseng. Bahasa terbaik dalam susunan terbaik dan dalam naluri yang paling dalam, adalah kata-kata pilihan. Memang bukan jelmaan daripada ayat-ayat al-Quran, tetapi selepas bahasa terindah, puisi adalah bahasa selanjutnya. Sebab itulah, ayat  As-Syuara, ayat 225-227 menyentuh golongan penyair. Bahasa penyair boleh menyesatkan dan juga boleh menjurus kepada kemuliaan. Al-Quran diturunkan dalam kegilaan jahiliah memperagakan puisi dan sajak di dinding Kabah. ' Naskhah ' boleh dikonotasikan sebagai ' kitab ' atau ' buku ' Kita juga biasa menggunakan perkataan naskhah al-Quran. Atau naskhah pemasyhuran. Naskhah membawa eleman dan pengertian ' kebesaran ' atau ' ke agungan '. Demikian ' Naskhah ' Raihani mahu dijelmakan. Memang puisi ' Naskhah ' ini antara puisi paling berfalsafah dalam kumpulan ini. Dalam rangkap pertama, ia sudah menunjukkan gagasan besarnya. ' tak semua hasrat dan keinginan adalah gagasan/ kuntum ilham sering berhubung/ dengan taman kurnia Tuhan/ lalu ramai yang hanya menunggu/ sekadar untuk menghidu bau// ' Manusia sering berlobi dengan gagasan dan hasrat terutama sang pemimpin. Kata popular yang sering kedengaran adalah slogan atau manifesto. Memanglah segala keinginan itu bersandarkan kepada kemurnian hasrat Ilahi. Hasrat ini diluahkan bagi memancing kesukaan ramai dan menakluki emosi mereka. Bagi pemimpin, gagasan, slogan atau manifesto adalah gambaran pemikiran mereka. Pemimpin Malaysia adalah antara pemimpin yang paling terkenal melontarkan ' naskhah slogan ' bagi memancing rakyat kepada kemampuan diri dan kepimpinannya atau terhadap parti yang diperjuangkannya. Dan daripada slogan inilah, ' ramai yang menunggu/ walau hanya sekadar menghidu baunya// Dan inilah yang sedang dialami oleh masyarakat Malaysia. Bermimpi dengan janji-janji muluk yang dilaungkan pemimpin. Namun puisi dua rangkap ini memberi konglusinya begini; semua di dunia ini adalah taman kurnia Tuhan/ bunga ilham menyimpan madu kata/ disaring dengan upaya bahasa/ Di sini, Raihani menjelaskan bahawa semua keberadaan di dunia Allah ini adalah milik Yang Maha Kuasa, namun keupayaan manusia memanipulasi bahasa sering memerangkap keinginan manusia. Janji manusia lebih dipercayai daripada janji Ilahi. Seterusnya Raihani menulis; ' gagasan itu buah lazat/ terbaja dari renung dan fikir/ dengan diri sendiri, alam dan kebenaran// Rumusan Raihani sangat tepat di mana manusia sering lalai mengunyah dan menyaring antara yang makruf dan yang batil. Pada saya, inilah puncak keupayaan berfikir Raihani yang sepatutnya kita hormati keberadaan dan keberhasilannya. ' Buah lazat ' mengingatkan saya pada puisi Amir Hamzah iaitu ' Buah Rindu. ' Lihat bagaimana Amir Hamzah menghasilkan ' buah rindu ' nya...

Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dan nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita.

Kicau murai tiada merdu
Pada beta bujang Melayu
Himbau pungguk tiada merindu
Dalam telingaku seperti dahulu.

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliput dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musyafir lata.

Sesa'at sekejap mata beta berpesan
Padamu tuan aduhai awan
Arah manatah tuan berjalan
Di negeri manatah tuan bertahan?

Sampaikan rinduku pada adinda
Bisikkan rayuanku pada juita
Liputi lututnya muda kencana
Serupa beta memeluk dia

Ibu, konon jauh tanah Selindung
Tempat gadis duduk berjuntai
Bonda hajat hati memeluk gunung
apatah daya tangan tak sampai

Elang, Rajawali burung angkasa
Turunlah tuan barang sementara
Beta bertanya sepatah kata
Adakah tuan melihat adinda?

Mega telahku sapa
Margasatwa telahku tanya
Maut telahku puja
Tetapi adinda manatah dia !

Kematian juga adalah ' buah lazat ' bagi mereka yang berjuang ke jalan Allah... Wuallauhualam...

No comments:

Post a Comment